Oleh: Hasan Achari Harahap
Dua batang besi tua terbentang lurus dan sejajar di seberang jalan, memanjang melintasi taman tempat Tugu Adipura berdiri. Dari sana jejaknya mengarah ke kios-kios di Pasar Bawah. Ke arah sebaliknya, jalur itu menuju Payakumbuh. Sebagian besar rel kereta api itu kini tertimbun aspal, dan orang yang lewat di Jalan Soekarno-Hatta, Bukittinggi, jarang menoleh ke arahnya.
Rel itu terletak tepat di depan Museum Kelahiran Bung Hatta. Di bangunan inilah Mohammad Hatta, proklamator sekaligus wakil presiden pertama Republik Indonesia, dilahirkan. Masa kecilnya, ketika ia akrab dipanggil Athar, berlangsung di sekitar rumah ini, yang kini menjadi cagar budaya. Namun jejak masa kecil itu tidak hanya tersimpan di balik dinding rumah. Rel tua di seberangnya ikut menyimpan cerita tentang seorang anak yang menyaksikan kekuasaan kolonial dari dekat, sekaligus tentang keseharian seorang anak Minangkabau.
Bagi sebagian orang, besi tua itu hanya sisa infrastruktur yang kehilangan fungsi. Padahal pada masanya kereta api menjadi urat nadi transportasi yang menghubungkan kota-kota di Sumatera Barat.

Jalan yang Diblokade
Peristiwa pertama yang dikenang Athar terjadi tepat di depan rumahnya, di antara rel dan rumah kelahirannya. Selusin serdadu Marsose bersenjata senapan dan bayonet terhunus memblokade jalan keluar dan masuk ke Fort de Kock. Mereka menggeledah orang pribumi, bahkan tanpa segan menodongkan senjata hingga terdengar jerit ketakutan.
Athar menyaksikannya langsung. Pamannya, Idris, menjelaskan bahwa pemblokadean itu terjadi karena Perang Kamang, yang menewaskan 12 tentara Belanda, sedangkan korban dari kalangan pribumi lebih dari 100 orang. Perang itu pecah karena masyarakat menuntut penghapusan pajak belasting.
Bagi Athar kecil, peristiwa itu bukan sekadar kabar perang yang jauh dari rumah. Kekuasaan kolonial hadir di depan matanya lewat serdadu bersenjata, penggeledahan penduduk, dan ketakutan orang yang hendak melintas. Dari pengalaman itulah, menurut Memoir Bung Hatta, tertanam kesan yang sederhana tetapi kuat dalam ingatan seorang anak, “Belanda jahat.”
Kawan Kakek di Dalam Kereta
Tidak lama berselang, peristiwa lain kembali membawa wajah kekuasaan kolonial ke hadapan Athar. Kali ini bukan serdadu yang memblokade jalan, melainkan kereta api dari Payakumbuh menuju Padang yang melintas membawa seseorang yang ia kenal.
Orang itu Pak Gaek Rais, kawan kakeknya yang sudah dianggap seperti saudara sendiri. Dari dalam kereta, Pak Gaek Rais sempat melambaikan tangan kepada Athar. Namun tangannya terbelenggu, dan serdadu Belanda mengawalnya menuju penjara di Padang.
Menurut Memoir, persoalan yang menimpa Gaek Rais berkaitan dengan sebuah tulisan di surat kabar Utusan Melayu. Tulisan itu mengkritik perilaku Westenenk, Asisten Residen Agam di Bukittinggi, yang dinilai tidak senonoh. Meski tidak menyebut nama, masyarakat memahaminya sebagai sindiran terhadap pejabat kolonial itu.
Gaek Rais kemudian dituduh terkait dengan perkara di Kamang. Jarak Payakumbuh dan Kamang tidak dekat, tetapi perkara itu menunjukkan bahwa jangkauan kekuasaan kolonial tidak berhenti di satu tempat. Kritik yang disampaikan lewat tulisan pun bisa berujung pada penangkapan dan pemenjaraan.

Menyeberang Rel Menuju Surau
Rel itu bukan hanya saksi peristiwa-peristiwa tersebut. Ia juga bagian dari keseharian Athar, anak Minangkabau yang tumbuh dekat dengan pendidikan agama. Pada sore hari, ia dan kakaknya menyeberangi rel di depan rumah untuk mengaji ke Surau Nyiak Djambek, yang berada di tengah sawah.
Rel itu dibangun sebelas tahun sebelum Athar lahir pada 1902. Sejak kecil ia sudah tumbuh dengan jalur kereta api sebagai bagian dari lanskap kota. Rel itu menghubungkan Bukittinggi dengan daerah lain, sekaligus menyaksikan perjalanan hidupnya sebelum ia meninggalkan kampung untuk melanjutkan pendidikan ke Padang, Batavia, dan Rotterdam, Belanda.
Kini kereta api tidak lagi melintas di jalur itu. Sebagian jejaknya tertutup aspal, dan lalu lintas kota terus bergerak di atasnya. Tetapi bila kita berhenti sejenak di depan rumah kelahiran Bung Hatta, rel tua itu mengajak kita menengok kembali seorang anak yang pergi mengaji, menyaksikan peristiwa di sekelilingnya, dan kelak menjadi salah satu tokoh penting kemerdekaan Indonesia.
Sejarah seorang tokoh bangsa tidak selalu bermula di ruang perundingan atau panggung politik. Kadang jejaknya bisa ditelusuri dari jalan yang dilalui setiap hari, surau tempat ia belajar, dan peristiwa yang membekas dalam ingatannya. Di depan rumah Bung Hatta, rel tua itu masih menyisakan ruang untuk membaca kembali masa lalu.

